Seputar Dunia Islam

Home | Seputar Dunia Islam | Tarbiyah | Muslimah Zone |

Saturday, September 09, 2006

Ahmadi Nejad Sebuah Fenomena

(dari MyQuran.org)
« on: 12 May 2006, 06:17:17 pm »
Oleh: Hertasning Ichlas
Dunia selalu menyimpan bibit-bibit yang ekstraordinari meskipun keluar sekali-kali. Dunia Islam kini seolah terepresentasikan oleh sosok yang baru saja meminta ulang keinginan Imam Khomeni agar Zionis dan Israel di Wipe off from world map. Seolah-olah tak ada lagi sekat Suni dan Syiah atas nama perlawanan terhadap Bush dan sekutunya.
Siapapun akan segera tahu lelaki doktor transportasi yang telah mempersembahkan ilmunya dalam mengatasi kemacetan akut di Teheran ini adalah seorang presiden yang kuda hitam.
Berbekal pengalaman memerintah yang cukup solid selama 7 tahun di 3 provinsi Iran, Ahmadi Nejad melenggang nothing to lose menuju puncak pentas politik Iran.
Apa pasal? Seorang lelaki dengan berewok tidak teratur dan performasi yang tidak memenuhi standar calon seorang presiden mampu mencuri hati masyarakat Iran yang terkenal agak sewotan dan kritis?Secara sederhana sejak awal revolusi Imam Khomeini dikelilingi kaum akhund atau para klerik yang terbelah menjadi dua polar.
aum Kanan yang ingin mengembangkan tradisi politik berbasiskan rujukan fiqh dan sumber-sumber orisinil Islam. Didalamnya sejumlah nama penting bercokol; Bahesti, Bahonar, Ali Khamenei (Wali Faqih), Nateq Nouri, Rafsanjani dan nama lain yang muncul belakangan.Di kiri, adalah kelompok ulama yang manifesto politiknya tak keberatan mengadopsi sistem politik barat ala Alexis Tocquivelle dan pelanjutnya yang mempromosikan demokrasi, kebebasan serta hak-hak sipil.
To some extent, kaum kiri ini tidak melulu menjadikan sumber Islam bekerja bak kacamata kuda. Mereka menaruh simpati atas apa yang berkembang di dunia barat. Beberapa nama tercatat; Ahmad Karoubi, Ahmad Khomeini (putra Imam), Hadi Khamenei (Adik Ali Khamenei), Kholholi, Sansanai hingga Khatami.Ajaibnya, Imam Khomeini membiarkan bahkan merestui kedua fakta politik akhund tersebut. Sampai saat keduanya mengambil tempat sebagai ruling party. Di pemerintahan dan yudikatif kaum kanan merapal jurus politiknya, di parlemen kaum kiri meneriakkan manifesto mereka.Kenyataan berikutnya politik Iran berjalan dengan suhu politik cukup tinggi.
Pertarungan dua kubu yang kemudian oleh media dikenal sebagai "pertarungan" Kaum Konservatif dan Kaum Reformis menyedot energi politik rakyat hingaa taraf paling menjemukan.Seringkali terjadi migrasi politik antara keduanya. Yang kiri menjadi kanan dan kanan menyeberang menjadi kiri. Rafsanjani salah satu dari contohnya.Di sisi lain "newspeak" politik yang dikembangkan oleh Ali Khamenei sebagai rahbar dan sebagai otoritas tertinggi konsep Wilayat Al Faqih boleh dikatakan agak berbeda dengan Maestro awalnya yakni Imam RuhullahKhomeini.
Sayyid Ali Khamenei selama 16 tahun lebih mengembangkan politik detente dan koorporasi harmonis dengan masyarakat dunia. didalamnya terdapat upaya dialog peradaban, perundingan dan keterlibatan dalam konvensi internasional dan forum PBB apalagi Amerika dan Sovyet yang sedang terlibat perang dingin.
Sementara Imam, dahulu lebih sering menatap dunia politik internasional dengan pandangan "lugu" yang pada kebanyakannya tak terlalu menggubris institusi besar global semacam PBB. Kritik terbuka adalah model komunikasi yang intens dilakukan.
Nampaknya konteks global dan kelelahan akibat perang Iran-Iraq boleh jadi menjadi alasan arrangement politik antar dua generasi tersebut.Ahmadi Nejad kemudian muncul. Setelah masyarakat agak kelelahan dengan model faksi kanan dan kiri serta penyebrangan dan inkonsistensi didalamnya yang diperagakan oleh Rafsanjani serta Khatami yang terlalunecis dan populis ketimbang produktif dan kerja keras dalam penilaian rakyat.Dalam urutan yang jeblok di posisi ke 6, bersaing dengan tokoh populis semacam Rafsanjani, Kepala Polisi Baliqaff, Tokoh liberal Moein, Karoubi dll, enjiner dan dosen ini benar-benar menerapkan kampanye diriyang amat polos dan sederhana untuk tak menyebut tak ada kampanye. Tak ada foto besar tertempel dan tak ada slogan-slogan politik yang gigantik. Ia mengandalkan kerja kerasnya dan kesederhanaan gagasannya.
Kota Suci Qom tempat pendidikan Islam dan berkumpulnya para Ayatullah diam-diam melirik Ahmadi Nejad terutama pada kelompok Misbah Yazdi beserta muridnya (meskipun tak pernah mendukung secara terbuka karenapertimbangan rakyat Iran yang selalu "ingin lain" dari preferensi ulama).
Di tengah keyakinan kuat bahwa Rafsanjani yang populer dan kaya itu akan menang, masyarakat diam-diam menaruh pilihannya pada manusia kurus pekerja keras yang tak pernah mengambil gaji gubernurnya dan bertubuh ringkih ini untuk memimpin Iran.
Politik Iran berubah out of the box. Masyarakat Barat terutama Amerika terkesima untuk kesekian kalinya. Tidak menduga bahwa seorang enjiner mampu bersuara terlalu lantang tentang kepentingan Iran, Isu Nuklirdan impian akan “New World Order” melampaui ulama garis keras yang secara stereotipikal dipercaya Bush dan kaum Neo-Con-nya tersebut.
Kini, Presiden Ahmadi Nejad yang kekayaan totalnya terkumpul hanya 300 juta rupiah dan hingga sekarang berkediaman di sudut gang seperti membawa kembali semangat revolusi dan gaya politik Imam Khomeini. Ia Presiden*censored*Revolusioner. Mungkinkah konteks global menuntut peran seperti itu?Dimana-mana figur berewok ini menyita perhatian dunia terutama negeri Islam disebabkan keberanian politiknya yang jelas-jelas bertolak belakang dengan performa tubuhnya. Seorang yang jelas-jelas “ULTRAKONSERVATIF” yang setia dengan semangat revolusi Islam Iran. Kepolosan dan politik "nothing to lose"nya makin mencerminkan kekuatan dan kepiawaian dalam menggasak politik ala hawkish dan zionis yang delicate konspiratif dan seringkali berpura-pura.
Kejujuran yang terkesan lugu sekalipun seringkali justru mampu membuka kedok sebuah "War On Terror" ala Bush, Sharon dan sekutunya yang dianggap palsu dan tak jujur oleh banyak negeri dunia ketiga.Dunia selalu menyimpan bibit-bibit yang ekstraordinari meskipun keluar sekali-kali. Dunia Islam kini seolah terepresentasikan oleh sosok yang baru saja meminta ulang keinginan Imam Khomeni agar Zionis dan Israel di Wipe off from world map. Seolah-olah tak ada lagi sekat Suni dan Syiah atas nama perlawanan terhadap Bush dan sekutunya.Nampaknya bandul dari pendulum sejarah segera ingin merubah arahnya. Chaves dibelahan latin makin kencang meneriakkan integrasi Amerika Latin bersama Morales, Bachellet dan Lula. Revolusi Bolivar menentang Amerika makin bertiup kencang disana.Mungkinkah kita akan menyaksikan peristiwa sejarah ketika Colossus sang emperor tumbang dimakan zaman. Pada Ahmadi Nejad mungkin kita bisa bertanya?.[]Penulis:Tinggal di jakarta dan mengelola Yayasan Rausyanfikr Jakarta .
Perbedaan bukanlah penghalang, jika tetap berpegang kepada Al Quran dan As Sunnah
Siapa pun dia, hamba Alah, jika dia muslim, dia saudara kita

0 Comments:

Post a Comment

<< Home